Travel lampung
HOME ABOUT US LEGALITAS NEWS / ARTICLE SPESIAL PROMO RISET GRATIS
Categories
Artikel 
Backlink 
Blogspot 
Facebook 
Google 
Hosting 
Instagram 
Internet 
Internet Marketing 
SEO 
Twitter 
Whatsapp 
Wordpress 
Our Office
CV. Morosakato
Jl. Damai I No. 37 Harapan Jaya, Bekasi Utara Kota Bekasi 17124
Marketing
Iman Bro
Ponsel
0812 - 843 - 29553
0858 - 830 - 01535
0818 - 069 - 55207
Fax
(021) 237 - 29115
Pin BB
588BF25C
Konsultasi Internet Marketing (Gratis)
Putra Candra Buana
Pin BB
74066D3D
Customer Service
Nur Aini
Ponsel
0899 - 944 - 8349
Pin BB
535CC656

Import Blogspot
Hadist Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan
Antara Puasa Dan Tauhid
Puasa Demi Menggapai Ridho Illahi
Warna Lidah Menandakan Adanya Penyakit
Manfaat Rebung untuk Kesehatan Tubuh Kita
10 Tips Mudik
Tips Menulis Artikel SEO Friendly
indahnya ramadhan
ASTAGA, WAJAH BUMI TIDAK BIRU LAGI
MENURUT ILMUWAN, CARA NABI MUSA BELAH LAUTAN
Gadis Ini Di Kecam banyak Orang Gara Gara Status Facebook
Pesan Salah Satu Korban Pesawat Air Asia Sebelum Jatuh
Bumi Akan Gelap Total selama 3 Hari Prediksi NASA
Manfaat Buah Apel
Hewan Qurban

ID-COP Kawal Keselamatan Anak-anak di Dunia Maya

ID-COP Kawal Keselamatan Anak-anak di Dunia Maya

Perkembangan teknologi semakin mempermudah anak-anak untuk mengakses internet. Namun sayangnya, tidak sedikit dari mereka justru menjadi korban penjahat dunia maya.

Berangkat dari keprihatan mengenai keselamatan anak Indonesia di internet, sejumlah institusi yaitu Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Yayasan Nawala, Yayasan SEJIWA, ECPAT Indonesia, Relawan TIK, dan ICT Watch, mendirikan sebuah hub bernama Indonesia Child Online Protection (ID-COP).

Forum yang berdiri sejak awal tahun ini bekerja dalam menerima laporan dan keluhan masyarakat yang berkaitan dengan child trafficking (perdagangan anak), cyber bullying(kekerasan di internet), dan online child prostitution (prostitusi anak di online).

Wakil Ketua KPAI, Maria Advianti, berharap ID-COP dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya yang mengancam anak-anak di internet, serta menguatkan pengetahuan dan pengalaman para pengambil keputusan dalam mengatasi kasus-kasus di dunia maya yang menargetkan anak-anak. 

Selain itu, katanya, kerjasama semua pihak sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut termasuk pemerintah, LSM, akademisi hingga sektor swasta dan para ahli teknis.

"Kasus pornografi dan kriminal di dunia maya yang menargetkan anak-anak sebagai korban semakin meningkat, karena itu kami merasa perlu untuk melakukan sosialisasi dengan memberikan edukasi cara mengatasi bahaya di internet," jelas Maria dalam acara Konsultasi Publik - Perlindungan Anak di Dunia Maya di Bogor, Kamis (17/9/2015).

Berdasarkan data KPAI, sejak 2011 sampai 2014, ada 932 laporan kasus pornografi dan kriminal di dunia maya yang menargetkan anak-anak sebagai korban. Jumlah itu, katanya, diprediksi akan meningkat pada tahun ini.

“Untuk data tahun ini saya belum ada, tapi kecenderungannya mengalami peningkatan setiap tahun,” sambungnya.

Keprihatinan mengenai keselamatan anak di dunia maya juga didukung dengan berbagai data lainnya. Maria pun tak mmenampik jika beberapa anak-anak yang awalnya menjadi korban pornografi dan kriminal di internet, akhirnya beralih menjadi pelaku.

Berdasarkan survei Biro Pusat Statistik, menunjukkan bahwa antara 2010 – 2014, ada 80 juta anak yang telah mengakses pornografi online, jumlahnya terus meningkat. 

Sebanyak 90% anak-anak yang mengakses pornografi online, telah mengawali pengalamannya ketika mereka berusia sekitar 11 tahun, dan mereka mengakses situs-situs porno justru ketika tengah mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

“Anak-anak rentan terpapar pornografi, sedangkan negara sepertinya masih bingung harus melakukan apa, mengingat internet adalah ruang publik. Anak-anak adalah kelompok khusus, karena itu kita juga membutuhkan cara-cara khusus,” ungkap Maria.

ID-COP, kata Maria, terbuka menawarkan ‘menu-menu’ untuk pemerintah sebagai upaya melindungi anak-anak dari pornografi dan kejahatan online lainnya.

“Pemerintah perlu melakukan upaya skala masif untuk mengedukasi soal internet agar anak-anak, orangtua, dan lembaga sekolah tercerahkan soal seperti apa internet yang ramah anak. Dengan demikian, mereka jadi lebih paham soal pencegahan kasus-kasus yang mengancam anak di internet,” katanya.

(din/isk)

TAG :